Cerita Misteri Lorong Bawah Tanah Lawang Sewu, Konon Jadi Penghubung Gedung Tua di Semarang

  • Bagikan

cerita misteri lorong bawah tanah lawang sewu

Masih ingat saat satu tv swasta menyiarkan ‎acara uji nyali di bangunan tua peninggalan Belanda di Semarang? Ya, bangunan yang diketahui dengan nama Lawang Sewu itu kental dengan kisah-kisah mistis yang sudah menebar.

Waktu itu, seorang lelaki yang ikuti uji nyali disuruh diam diri dalam suatu lorong bawah tanah yang ada di Lawang Sewu sepanjang berjam-jam. Tetapi sayang, lelaki itu menyerah waktu akui lihat sesosok bayangan putih di ujung lorong.

Memang kelihatan menyeramkan jika lihat begitu gelap serta pengapnya lorong bawah tanah itu. Tetapi sebetulnya lorong itu berperan jadi aliran air di waktu kolonial. Karena itu tidak bingung jika situasi di lorong itu ‎pengap dan gelap.

“Orang Belanda dahulu jika membuat bangunan memerhatikan sekelilingnya. Di Semarang ini kan dekat laut serta panas. Tidak hanya untuk aliran air supaya bangunan di atasnya sejuk,” sebut Ari, salah satunya pemandu yang temani detikcom saat berkeliling-keliling Lawang Sewu, Sabtu (20/12/2014).

Tidak itu saja, Ari bercerita jika sebetulnya lorong itu terkait dengan beberapa bangunan kuno di Kota Lumpia. Banyak sekali bangunan-bangunan tua peninggalan Belanda seperti di lokasi Kota Tua dan beberapa bangunan yang saat ini jadi sekolah dan rumah sakit.

“Lorong ini kan memang aslinya menyambungkan bangunan tua di Semarang. Yang telah diketahui seperti di wilayah Kota Lama,” sebut Ari.

Lokasi Kota Lama sendiri jaraknya seputar 4-5 km. dari Lawang Sewu. Tetapi konon tuturnya lorong-lorong itu memang tidak asal-asalan dapat dimasuki oleh warga umum. Karena tidak hanya gelap, di kuatirkan terdapatnya gas beracun yang beresiko.

Sayangnya saat detikcom menyambangi Lawang Sewu, akses ke arah lorong itu sedang dalam perbaikan. Karena tangga untuk turun ke lorong itu rusak. Tetapi waktu beberapa tahun kemarin berkunjung ke Lawang Sewu, pengunjung dapat merasai sensasi ada di lorong itu.

Lorong itu cuma memiliki ukuran tinggi tidak lebih dari 2 mtr.. Di sejumlah sela justru kadang pengunjung harus membungkuk. Selain itu alasnya tetap dibanjiri air, karena itu pengunjung harus menggunakan sepatu boot.

“Air di lorong itu tidak akan kering. Sebab dibawah itu kan memang lembab. Jika betul-betul kering kemungkinan waktu kemarau yang betul-betul panas. Airnya kelak kan menguap,” kata Ari.

Satu cerita yang menyelimutinya lorong bawah tanah Lawang Sewu yakni saat Jepang sukses menempati Semarang. Waktu itu Jepang memakai lorong itu jadi penjara. Walau sebenarnya di waktu kependudukan Belanda, Lawang Sewu digunakan jadi kantor perkeretaapian.

Di waktu kependudukan Jepang, beberapa tahanan baik dari pribumi atau orang Belanda dikurung di lorong bawah tanah. Ada dua tipe ruangan tahanan yakni penjara jongkok serta penjara berdiri.

Penjara jongkok itu ada di lorong bawah tanah yang memiliki bentuk seperti bak ukuran tinggi 0,5 mtr.. Beberapa tahanan harus jongkok di dalamnya serta diisi air sampai hanya leher lantas bak itu ditutup teralis besi.

Sesaat penjara berdiri itu cuma memiliki ukuran seputar 1 mtr. x 1 mtr.. Selanjutnya beberapa tahanan yang banyaknya seputar 7-8 orang akan berdiri berhimpitan di penjara itu. Memang penjara itu tidak ditujukan untuk meredam tetapi untuk menganiaya beberapa tahanan sampai akhirnya meninggal serta dibuang ke sungai di belakang Lawang Sewu.

  • Bagikan