JANGAN KAGET! Mengungkap Misteri Di Padepokan Gunung Talang

  • Bagikan

misteri di padepokan gunung talang

Mengungkap Misteri Di Padepokan Gunung Talang – Narasi Kanjengan tidak terlepas dari bangunan pendapa Kabupaten Semarang yang paling akhir kelihatan pada 1974. Bangunan yang dibuat dari kayu jati bergaya limasan berlantai kayu itu selanjutnya dipindah ke Gunung Talang. RMOLJateng, coba mencari sisa bangunan yang konon menurut masyarakat seputar ditempati banyak makhluk halus.

Tidak sulit untuk cari tempat bangunan bersejarahtersebut. Tempatnya benar-benar dekat sama Jembatan Besi pertigaan mengarah Unnes serta Jatingaleh. Pas di kiri pertigaan itu ada lokasi “rimba kecil” yang rimbun banyak pohon-pohon, di atas rimba itu ada padepokan Gunung Talang.
Jalan ke arah Padepokan lumayan lebar, dapat dilewati mobil tetapi berkesan singup sebab terdapat banyak pohon-pohon dikanan kiri. Waktu masuk malam hari tidak ada penerangan hingga gelap serta seram.

Diradius 100 mtr. di bawah padepokan ada banyak rumah tetapi jarak dari satu rumah dengan rumah yang lain cukup jauh. Kompleks pemakaman yang ada wilayah seputar itu meningkatkan situasi makin menyeramkan.

Tiupan angin yang berdesir menerbangkan debu serta daun kering. Daun-daun kering keluarkan suara ciri khas gemerisik waktu terinjak kaki beberapa pejalan kaki. Angin yang berdesir di antara tangkai serta rating pohon juga cukup menolong membersihkan keringat yang mengalir di dahi atau punggung.

Sampai di pucuk di lokasi Kanjengan, kita akan disajikan panorama yang cukup eksotik, terlihat bangunan berupa joglo limasan yang dikelilingi rerimbunan pohon, tidak kelihatan satu juga orang. Burung yang hinggap di pucuk joglo berkicau bersama-sama dengan bunyi gesekan daun yang tertiup angin memunculkan irama bak orkestra. Dari kejauhan, lantunan adzan Dhuhur bersahutan.

Di depan kami terhampar bangunan seluas 25×25 mtr.. Sesudah naiki lima anak tangga, di bangunan joglo yang dikelilingi tembok setinggi satu mtr. itu penuh dengan plastik serta sisa paket makanan, pecahan botol, koran, pecahan darurat, kayu serta rumput liar atau akar yang tumbuh subur.

Papan kayu yang membungkus 12 soko yang dibikin dari cor semen bertulang besi dibagian tengah hampir semuanya terkelupas. Atap di pojok timur sisi utara serta selatan juga rubuh. Ranting serta dahan pohon yang tumbuh di sekitar bangunan juga beberapa masuk ke sisi dalam joglo.

Pasar Kanjengan tidak terlepas dari bangunan Pendapa Kabupaten Semarang. Saat itu, Belanda membuat pusat pasar bertaraf kekinian sampai mengonsumsi ruang lokasi Kanjengan. Sangat terpaksa, pendapa dipindah ke gunung Talang.

Kokoh (66), juru kunci bercerita keadaan Pendapa Kanjengan. Pendapa dahulunya berupa joglo, penutup bangunan datang dari papan, serta mempunyai empat tiang kayu yang besar. Permukaan lantainya rata, tidak sama dengan saat ini, pendapa sudah dibuat lagi.

Sayangnya, seputar 1976 Kanjengan ambruk karena musibah angin kencang. Puing-puing bangunan dipindahkan ke rumah dinas Wali Kota Semarang di Manyaran. Tempat sisa pendopo, selanjutnya diatur lagi untuk pembangunan Padepokan Pencak Silat Semarang.

Padepokan Gunung Talang yang disebut sisa tempat berlatih pencak silat itu saat ini telah dibiarkan. Sesudah padepokan tidak pakai, Kanjengan jadi tidak tertangani. Kayu melapuk, dedaunan, dahan dan tanaman liar penuhi ruang bangunan. Tumbuhan akar gantung meningkatkan kesan-kesan mistis serta diakui masyarakat seputar banyak penghuni gaib yang tinggal dalam tempat itu.

Menurut narasi yang tampil di warga, padepokan itu di huni banyak makhluk astral yang tidak kasat mata. Pemimpinnya ialah makhluk halus yang berupa ular. Jadi orang yang lumayan lama tinggal di seputar padepokan, tentu saja narasi misteri mengenai keangkeran Padepokan itu telah jadi makanan setiap hari.

Dinas Kebersihan serta Pertamanan Sudarsono menjelaskan, sering berlangsung perstiwa mistik di Kanjengan. Karena dahulunya pernah dipakai jadi tempat semedi. Penampakan makhluk astral jadi bahan pembicaraan warga ditempat. Bukan hanya Kembali kenang Kanjengan di Gunung Talang itu.

“Tiga kera putih sering tampil di padepokan,” katanya.

Salah satau masyarakat seputar yang malas disebut namanya bercerita waktu kecilnya pada saat bermain ke padepokan. Maksudnya tidak lain cuma untuk merasai atmosfer keseramannya.

Jujur kalau saya sendiri tidak pernah bergesekan dengan penghuni padepokan, tetapi tetangga saya banyak yang mempunyai pengalaman ghaib. Mbah Tris contohnya, jadi tetua kampung banyak pengalaman ghaib yang sudah ia rasakan, diantaranya memperoleh sepasang batu merah delima yang tidak dapat dipisah. Disamping itu ada tetangga saya namanya Tata, ia kerasukan penunggu padepokan Gunung Talang,” kisahnya.

Saya masih ingat benar saat Tata kerasukan, saat itu setelah magrib masyarakat di gegerkan dengan seorang masyarakat kampung yang kesurupan. Waktu kesurupan itu figur di badan Tata akui jadi Ratu penghuni Padepokan Gunung Talang, penghuni gaib itu tidak terima tempatnya diobrak abrik,” sambungnya sambil mengingat kembali insiden seram yang menerpa tetangganya.

Menurut dia, banyak masyarakat yang menghubung-hubungkan insiden gaib itu ada hubungan dengan acara Dunia Lain, sebab beberapa waktu sebelum kesurupan itu padepokan itu digunakan untuk Uji nyali. Masyarakat beranggapan jika penghuni padepokan itu tidak terima tempatnya diobrak abrik oleh team uji nyali.

Untuk keluarkan figur ghaib dari badan Tata benar-benar susah faktanya beberapa pemuka agama di kampung itu gagal mengeluarkannya dari badan Tata. Perlu waktu berjam-jam untuk keluarkan makhluk itu dari badan Tata. Disamping itu masyarakat di sekitar padepokan gunung talang seringkali “diliatin” makhluk halus seperti pohon yang beralih jadi pocong, atau dikejar makhluk halus berupa api (orang jawa seringkali mengatakan dengan Banaspati).

Sebab berkesan sepi serta singup karena itu padepokan seringkali jadikan jadi tempat memadu kasih.Walau sebenarnya menurut kesaksian warga seputar padepokan, dahulu kala ada insiden yang menghebohkan masyarakat. Disuatu pagi seorang pelacak tangkai kayu temukan sepasang kekasih yang wafat di padepokan.

Urutan wafat pasangan itu masih bersetubuh serta (maaf) alat kelamin dari keduanya gantet (gancet) tidak dapat dipisah,” katanya.

Sekarang pengaturan lokasi Kanjengan masih berbentuk wawasan. Sampah berantakan serta bangunan hampir rubuh jadi panorama, peninggalan Pendapa Kabupaten Semarang.

Gagasannya, lokasi Kanjengan akan dibuatkan ruang jogging, tempat parkir, mushola, kamar mandi dan gardu pandang,” jelas Sudarsono di kantor kelurahan. Tetapi sampai sekarang belumlah ada tindak lanjut dari dinas berkaitan.

  • Bagikan